Sunday, April 14, 2013

Cerita Masa Kecilku, Penyemangatku

Hari ini kudapati pemandangan yang tidak biasa di kopaja yang aku naiki. Penumpang bukan hanya mereka yang mau ke kampus atau mereka yang mau ke pasar tapi juga sekumpulan anak-anak SD. Jika diamati dari pakaian dan tas mereka sepertinya mereka hendak renang di sebuah tempat. 

Bukan hendak  kemana mereka pergi atau mereka akan melakukan apa yang menarik perhatianku. Namun, ingatanku langsung berlari menuju masa kecilku yang tak biasa. Alergi yang sedang kambuhpun membiarkanku menikmati memory masa kecilku. 

Masa kecilku tidak biasa, aku bukan mereka yang bisa bermain seenaknya menghabiskan waktu bersama teman-teman sebaya. Masa kecilku cukup seru, karena kedua orang tuaku sudah pensiun menghirup udara dunia dan akupun tidak punya sanak saudara jadi aku harus menikmati masa kecilku di tempat yang mau mengasuhku. 

Sudah hukum alam di jaman aku kecil, ketika  diasuh oleh orang lain yang notabene bukan keluarga kitapun harus memberikan pelayanan timbal balik kepada mereka. Ak di sekolahkan tapi aku juga punya konsekuensi untuk menjadi asisten rumah tangga. Ketika teman-temanku sibuk memainkan mobil-mobilan di halaman atau mereka sibuk main petak umpet, dakon, atau bahkan engkling (bahasa jawa) aku justru harus mencuci, mengepel, menyetrika dan juga masak. Sementara orang yang mengasuhku mencari nafkah dan anak-anaknya sedang sibuk bermain di luar rumah. 

Pagi hari aku harus bangun pagi-pagi sekali membantu membuat bakpao dan kemudian sembari menuju ke sekolah akupun mampir ke warung-warung menitipkan bakpao tersebut. Tapi sayang waktu itu aku masih sangat kecil jadi sekarang pun lupa bagaimana membuat sebuah bakpao. 

Berjalan pulang dari sekolah pun aku harus menempuh jalan sendiri tidak bersama teman-teman karena ak harus kembali mengambil titipan dagangan. Ya الحمدلله selalu laku jikapun sisa hanya satu atau dua biji. Maklum waktu itu bakpao jadi salah satu makanan favourite di kampung yang aku tinggali. 

Hampir setiap hari melakukan aktifitas yang sama, nah ak hanya diberi waktu jika ak harus mengerjakan tugas kelompok bersama teman-teman itupun mengerjakan tugas kelompok harus di rumah yang aku tumpangi. Ibu pengasuhku orang yang kaya di kampung pada waktu itu jadi rumahnya gedong dan besar sehingga teman-teman yang belajar pun nyaman. 

Masa kecilku tidak semulus yang diharapkan karena aku sama juga dengan anak-anak yang lain terkadang ingin punya kesempatan bersama teman-teman yang lain untuk bergabung bermain jadi akupun sekali dua kali kabur meninggalkan segudang pekerjaan untuk bermain dan itulah sebabnya aku tidak bertahan hidup di satu pengasuh saja tapi aku berpindah-pindah dari satu keluarga ke keluarga yang lainnya. 

Lain keluarga yang mengasuhku lain cerita pula, banyak petualangan  seru sewaktu kecil yang membuat aku bisa kuat seperti sekarang ini. Bisa survive ditengah kerasnya kehidupan. Terima kasih Allah SWT aku yakin Engkau sangat menyayangiku sehingga Engkau mempercayakan banyak perjalanan yang tidak biasa untukku dan untuk semua keluarga yang mengasuhku yang kebanyakan sudah meninggal semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik disisiNya terima kasih untuk semua pelajaran hidup yang sangat berharga. 

Kopaja berhenti, tak terasa air mata ini menetes deras saat ak berjalan menuju kantor. Hahaha aku tahu kenapa Allah SWT tiba-tiba mengingatkanku  pada masa laluku, semalam aku menangis dan merasa hidup ini sangat berat saya jalani sendirian. Allah SWT mengingatkanku  sewaktu kecil aku tidak pernah takut pada apapun kenapa sekarang harus rapuh. Perjalanan hidup ini harus bisa dilalui sebaik mungkin. Terkadang ak harus bisa menempatkan diri menjadi aku sewaktu kecil tanpa beban pikiran, menikmati setiap proses yang ada tanpa rasa takut. 


No comments: